RADARPANGANDARAN.COM – Mode eco motor membantu efisiensi bahan bakar, tetapi penggunaan terus-menerus dapat menurunkan respons throttle mesin.
Namun demikian, banyak pengendara harian tidak menyadari dampak jangka panjangnya.
Pada dasarnya, mode eco menekan agresivitas kerja mesin.
Akibatnya, mesin lebih sering beroperasi pada RPM rendah.
Dalam jangka panjang, RPM rendah memicu terbentuknya residu pembakaran.
Honda menjelaskan kondisi ini melalui panduan teknis sistem PGM-FI.
Residu karbon menumpuk pada throttle body dan katup masuk.
Efek tersebut muncul ketika mesin jarang mencapai suhu optimal.
Karena itu, pabrikan menyarankan variasi gaya berkendara.
Sebaiknya, pengendara tidak menggunakan mode eco secara terus-menerus.
Sebagai alternatif, transisi ke mode normal membantu menjaga kebersihan mesin.
Mesin membutuhkan beban sesekali agar proses pembakaran tetap bersih.
Tanpa variasi beban, performa mesin dapat menurun perlahan.
Pada awalnya, pengendara jarang merasakan gejala penurunan performa.
Namun akhirnya, dampak tersebut muncul setelah pemakaian jangka panjang.
Dampak Mode Eco terhadap Penumpukan Karbon dan Respons Throttle
Pabrikan merancang mode eco untuk menekan konsumsi bahan bakar.
Yamaha menjelaskan eco mode mengubah mapping throttle dan pengapian mesin.
Perubahan ini membuat respons throttle menjadi lebih lambat.
Tujuannya, tentu saja, untuk menurunkan konsumsi dan emisi gas buang.
Namun, pabrikan juga mengakui adanya efek samping tertentu.
Saat akselerasi, respons mesin terasa kurang spontan.







