Manajemen Penurunan Jarak Tempuh EV, Cara Cerdas Membedakan Degradasi Baterai EV dan Anomali Sistem

RADARPANGANDARAN.COM – Manajemen penurunan jarak tempuh menjadi kunci memahami degradasi baterai EV, terutama saat perbedaan mulai terasa nyata.

Pada praktiknya, penurunan jarak tempuh tidak selalu menandakan baterai rusak.

Namun demikian, tidak semua penurunan tergolong kondisi normal.

Karena itu, pemahaman dasar sangat diperlukan oleh pemilik EV.

Sering kali, pemilik EV mencampuradukkan degradasi alami dengan anomali sistem baterai.

Padahal, kedua kondisi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Dengan pendekatan tepat, pengguna dapat mengenali perbedaan tersebut lebih awal.

Hal ini membantu pengambilan keputusan perawatan secara lebih akurat.

Selain itu, pendekatan ini menekan risiko kerusakan lanjutan.

Manajemen yang baik juga meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap kendaraan listrik.

Saat ini, industri dan akademisi mendukung pendekatan tersebut melalui data ilmiah.

Beberapa studi bahkan menetapkan batas degradasi yang dianggap normal.

Angka tersebut menjadi acuan penting dalam evaluasi performa baterai.

Tanpa acuan jelas, pengguna sering melakukan penilaian keliru.

Degradasi Baterai EV Normal dan Real-World Range Loss

Degradasi baterai EV terjadi secara alami akibat siklus pengisian dan penggunaan harian.

Proses ini tidak dapat dihindari sepenuhnya oleh pengguna.

Namun, para peneliti dapat memprediksi lajunya secara statistik.

Studi Geotab EV Battery Health mencatat degradasi rata-rata sekitar 2,3 persen per tahun.

Peneliti memperoleh angka tersebut dari data ribuan kendaraan di dunia nyata.