RADARPANGANDARAN.COM –Â Manajemen risiko EV bekas menjadi krusial karena fast charge ekstrem sering memicu overheating baterai.
Secara kasat mata, pemilik sering tidak melihat kondisi ini.
Namun demikian, dampaknya bisa sangat serius jika pengguna mengabaikannya.
Oleh karena itu, pemilik perlu melakukan inspeksi setelah riwayat panas berlebih.
Terutama, hal ini penting bagi EV bekas dengan pemakaian intensif.
Baterai lithium-ion sangat sensitif terhadap stres termal.
Saat overheating terjadi, panas mengubah struktur internal baterai.
Perubahan tersebut kemudian meningkatkan risiko thermal runaway.
Inilah sebabnya, pemilik harus menerapkan manajemen risiko sejak awal.
Pendekatan ini sejalan dengan kajian Shukla dan Shankul tahun 2024.
Mereka menekankan pentingnya evaluasi setelah kejadian termal.
Selanjutnya, pemilik beralih ke tahap inspeksi teknis.
Inspeksi bertujuan mendeteksi degradasi tersembunyi pada baterai.
Dengan demikian, pemilik dapat menekan risiko lanjutan.
Pendekatan ini relevan bagi calon pembeli EV bekas.
Identifikasi Risiko Thermal Event pada EV Bekas
Thermal event EV biasanya muncul akibat panas berlebih saat pengisian cepat.
Fast charge ekstrem secara signifikan menaikkan suhu sel baterai.
BTMS menjaga suhu baterai tetap dalam batas aman.
Namun demikian, sistem ini memiliki batas kerja tertentu.
Jika suhu melampaui batas, panas memicu degradasi internal.
Oleh sebab itu, pemilik perlu memahami risiko laten sejak awal.
Overheating berulang mempercepat penuaan sel baterai.
Akibatnya, kapasitas dan stabilitas baterai menurun.







