RADARPANGANDARAN.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kembali mencuri perhatian ketika Gemini AI menghadirkan Lyria 3 sebagai fitur baru yang memungkinkan membuat musik berbasis ai tapi juga memunculkan pro dan kontra di kalangan kreator digital.
Langkah ini menandai babak baru dalam evolusi platform AI multimodal yang sebelumnya dikenal fokus pada teks, gambar, dan video.
Kini, kreativitas audio menjadi fokus pengembangan berikutnya.
Era Baru Kreativitas Digital
Kemunculan teknologi generatif telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan konten digital.
Jika sebelumnya pembuatan lagu membutuhkan studio, alat musik, serta proses produksi yang panjang, kini semuanya dapat dimulai dari sebuah ide sederhana.
Cukup dengan deskripsi singkat, sistem mampu menerjemahkan imajinasi menjadi komposisi musik utuh dalam hitungan detik.
Inovasi ini membuka akses yang lebih luas bagi siapa pun yang ingin bereksperimen dengan suara.
Pelajar, kreator konten, hingga pelaku UMKM dapat menciptakan jingle atau soundtrack tanpa harus memiliki latar belakang musik profesional.
Bagaimana Lyria 3 Mengubah Proses Kreatif
Model generatif terbaru ini dirancang untuk memahami konteks secara mendalam.
Pengguna dapat menuliskan suasana hati, genre, hingga cerita personal yang ingin dituangkan dalam lagu.
Sistem kemudian mengolah deskripsi tersebut menjadi lirik, aransemen, serta vokal yang terdengar padu.
Tidak hanya berbasis teks, teknologi ini juga mampu membaca elemen visual.
Foto perjalanan, potongan video liburan, atau momen keluarga dapat diterjemahkan menjadi komposisi yang sesuai dengan atmosfer visualnya.







