Gaya Hidup

Burnout di Usia 20-an

RADARPANGANDARAN.COM— Memang, istilah burnout telah menjadi kosakata yang sangat akrab di telinga masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di usia 20-an.

Bukan lagi sekadar kelelahan biasa, namun burnout pada usia ini menunjukkan fenomena kelelahan fisik, emosional, dan mental. Kondisi ini dialami banyak Generasi Z akibat kombinasi tekanan yang sangat tinggi. Jelaslah tekanan tersebut muncul dari ekspektasi diri, lingkungan sosial, serta dinamika ekonomi dan teknologi yang serba cepat.

Pertama-tama, Kami Mendefinisikan Burnout: Lebih dari Sekadar Lelah

Secara sederhana, burnout melibatkan kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang parah. Kondisi ini muncul akibat stres atau tekanan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, kondisi ini merupakan respons tubuh dan pikiran yang sudah lelah terhadap tuntutan yang seolah tidak ada habisnya.

Namun, faktanya burnout sangat berbeda dengan sekadar lelah setelah bekerja seharian yang biasa diderita pekerja. Sebagai kontras, kelelahan biasa pasti akan hilang dengan tidur atau istirahat sebentar.

Sebaliknya, burnout memberikan rasa lelah berkepanjangan yang tidak hilang meskipun penderitanya sudah tidur cukup. Selanjutnya, kondisi ini menimbulkan dampak buruk pada fungsi hidup sehari-hari, menyebabkan penurunan kinerja, sikap sinis terhadap pekerjaan, atau bahkan perasaan terasing.

Kenapa Usia 20-an Rentan?

Usia 20-an sering menciptakan masa emas yang penuh tantangan. Oleh karena itu, beberapa faktor utama menjadikan usia ini sangat rentan terhadap burnout.

  • Ekspektasi tinggi mendorong Quarter-Life Crisis: Anak muda merasa harus cepat sukses, memiliki penghasilan stabil, dan terlihat sempurna di media sosial; tekanan ini memicu fenomena yang sering mereka sebut quarter-life crisis.
  • Paparan non-stop pada pencapaian dan “kehidupan sempurna” orang lain di media sosial secara berkelanjutan memicu perasaan kurang, gagal, dan stres. Akibatnya, mereka mengenal kondisi ini sebagai FOMO (Fear of Missing Out).
  • Budaya Hustle mengaburkan batasan kerja: Adanya tekanan untuk selalu produktif, termasuk mengejar proyek sampingan, menyebabkan sulitnya memisahkan waktu kerja dan istirahat. Dengan demikian, kondisi ini memunculkan kelelahan yang tak terhindarkan.
  • Lingkungan digital menciptakan overload informasi: Otak jarang mendapatkan istirahat karena menerima overload informasi, notifikasi yang tidak pernah berhenti, dan juga kebiasaan scrolling tanpa henti.
  • Pandemi dan isolasi sosial memberi dampak jangka panjang. Banyak anak muda kehilangan pengalaman penting atau menjalani fase awal karir/kuliah secara remote, yang menimbulkan rasa terisolasi secara terus-menerus.

Mengatasi Burnout dan Prioritaskan Diri

Untuk itu, mengatasi burnout membutuhkan perubahan pola pikir dan gaya hidup yang signifikan. Oleh karena itu, kami memberikan beberapa langkah efektif yang dapat Anda terapkan segera.

  1. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Mulailah dengan berhenti sejenak dari kesibukan, pastikan tidur cukup, dan segera kurangi waktu layar (screen time) untuk memberi otak jeda.
  2. Lakukan Journaling untuk memahami emosi. Cobalah untuk menulis perasaan, pikiran, dan kekhawatiran Anda; faktanya, ini adalah cara kuat mengurai emosi yang terpendam.
  3. Latihan Mindfulness meredakan stres. Praktekkanlah meditasi sederhana atau teknik tarik napas dalam; alat efektif ini menurunkan tingkat stres dan menjaga fokus Anda pada saat ini.
  4. Ubah pola pikir tentang kesuksesan. Hentikanlah perbandingan sosial yang merusak. Ubah definisi kesuksesan bukan pada kecepatan atau kuantitas pencapaian, tetapi pada kesehatan mental dan arah hidup yang jelas.

Kesimpulannya, ingatlah bahwa self-care dan menetapkan batasan diri (Anda tidak harus selalu produktif) menjadi kunci utama dalam mengatasi burnout. Meskipun demikian, jika Anda merasa kewalahan atau gejala tidak membaik, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Pada akhirnya, Anda harus selalu menjadikan kesehatan mental dan fisik sebagai prioritas utama.

Page: 1 2

Tami Nurlaili

Share
Published by
Tami Nurlaili

Recent Posts

Suzuki e-Vitara Mobil Listrik Suzuki dengan Baterai 61 kWh dan DC Fast Charging

RADARPANGANDARAN.COM - Suzuki e-Vitara sebagai mobil listrik Suzuki hadir dengan baterai 61 kWh dan DC…

27 menit ago

Edit Foto Selfie Malam Hari Lebih Estetik dan Realistis dengan Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia

RADARPANGANDARAN.COM - Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia kini menjadi solusi favorit bagi banyak pengguna yang…

42 menit ago

POCO X6 5G, HP Gaming 3 Jutaan Paling Kencang 2026 dengan Snapdragon 7s Gen 2

RADARPANGANDARAN.COM - POCO X6 5G menjadi HP gaming 3 jutaan terbaik 2026, menawarkan performa cepat…

1 jam ago

VinFast VF 3, Mobil Listrik Mini untuk Mobilitas Urban

RADARPANGANDARAN.COM - VinFast VF 3 hadir sebagai mobil listrik mini yang menyasar mobilitas kota dengan biaya…

2 jam ago

Dell XPS 13 dan Laptop Dell XPS Terbaru: Harga Dell XPS dan Spesifikasi Dell XPS Terkini

RADARPANGANDARAN.COM - Dell XPS 13 menjadi Laptop Dell XPS populer karena spesifikasi Dell XPS tinggi…

2 jam ago

Bikin Foto Terlihat Dramatis dengan Efek Panning Pakai Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia

RADARPANGANDARAN.COM - Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia kini semakin sering digunakan untuk menghadirkan edit foto…

3 jam ago

This website uses cookies.