RADARPANGANDARAN.COM — Indonesia memiliki kebiasaan unik dalam menunjuk arah. Di berbagai daerah di Nusantara, masyarakat tidak hanya memakai kanan dan kiri. Mereka menggunakan arah mata angin untuk menunjukkan lokasi dan orientasi ruang.
Bahkan, banyak wilayah di Indonesia masih aktif menggunakan sistem ini dalam percakapan sehari-hari. Ini bukan fenomena kuno, tetapi budaya linguistik yang hidup. Sistem arah mata angin ini dalam ilmu linguistik disebut sistem orientasi absolut, karena bersumber pada arah geografi, bukan arah tubuh.
Pulau Jawa, Istilah Wetan dan Kulon Masih Hidup
Di banyak daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY, istilah “wetan” (timur), “kulon” (barat), “lor” (utara) dan “kidul” (selatan) masih sangat umum. Orang Jawa yang tinggal di pedesaan atau daerah tradisi masih sering memakai istilah ini untuk menjelaskan arah.
Misalnya, “pasare ana ning kulon kali” (pasar ada di barat sungai). Ini bukti bahwa sistem absolute frame masih hidup dalam budaya Jawa. Bahkan kelompok umur tua masih menyebut waktu subuh sebagai “wetan” karena itu adalah arah terbit matahari.
Sunda, Banyak Daerah Masih Memakai Papasangan Arah
Di sebagian wilayah Sunda, arah seperti kidul, kalér, wetan, kulon masih terdengar di percakapan. Masyarakat Sunda tua, khususnya di wilayah kampung yang masih kuat struktur adat, lebih nyaman memakai arah geografi daripada kanan kiri.
Misalnya, saat menunjukkan rumah kerabat, mereka bisa berkata “rumahna di wetan alun-alun”. Ini bentuk penggunaan arah absolut yang langsung merujuk pada orientasi bumi.







