Bugis dan Makassar, Laut dan Matahari Jadi Orientasi Arah
Di beberapa daerah Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis-Makassar terbiasa memakai orientasi laut dan orientasi matahari. Dalam kosmologi maritim, laut memiliki arah sendiri, dan arah mata angin menjadi orientasi yang stabil.
Sistem ini menjadi dasar navigasi sejak ratusan tahun lalu ketika masyarakat Bugis terkenal sebagai pelaut. Di sini, arah bukan sekadar koordinat, tetapi bagian dari identitas maritim.
Papua, Banyak Kampung Tradisi Masih Menyebut Arah Absolut Dalam Menunjuk Lokasi
Beberapa kampung di Papua yang masih kuat struktur sosial adat memakai arah bumi sebagai penunjuk rute. Karena jalur jalan antar kampung sering tidak selalu lurus, arah mata angin lebih stabil sebagai referensi daripada kanan-kiri.
Masyarakat lokal sering menggunakan arah berdasarkan puncak gunung, mata air, dan matahari sebagai orientasi. Sistem ini sangat natural untuk lingkungan geografis yang luas.
Ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem arah mata angin bukan fenomena langka di Indonesia. Sistem orientasi absolut masih hidup di Jawa, Sunda, Bugis-Makassar, hingga Papua. Indonesia bukan hanya memakai kanan dan kiri. Kita adalah bangsa yang mewarisi tradisi navigasi ruang yang kaya.
Arah bukan hanya sekedar “belok kiri” dan “belok kanan” tetapi memiliki dimensi ruang geografi yang jauh lebih dalam. Dan sebagian besar masyarakat Nusantara masih menyimpannya dalam bahasa mereka.







