Dampak Serius Kaum Mager yang Semakin Meresahkan

RADARPANGANDARAN.COM –Ā  Belakangan ini, istilahĀ mager sudah jadi bagian dari obrolan sehari-hari.Ā Mulanya hanya candaan, tapi sekarang gaya hidup kaum magerĀ ini makin terasa di mana-mana. Orang lebih suka rebahan sambil main ponsel, pesan makanan lewat aplikasi, atau belanja online tanpa keluar rumah. Semua terasa praktis, tapi di balik kenyamanan itu, ada kebiasaan pasif yang perlahan bikin tubuh dan pikiran kehilangan semangat.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan, sekitar 37 persen masyarakat Indonesia kurang bergerak. Artinya, satu dari tiga orang memilih diam ketimbang beraktivitas. Angka ini bikin cemas, karena semakin banyak orang terbiasa hidup santai tanpa keseimbangan fisik yang sehat.

Dari Rebahan ke Risiko Nyata

Gaya hidup mager memang terasa enak. Tapi, terlalu lama diam bisa jadi bumerang. WHO memperingatkan, kurang gerak bisa memicu penyakit seperti jantung, stroke, dan diabetes. Dalam laporan globalnya, WHO memprediksi sekitar 500 juta orang di dunia akan terkena penyakit akibat malas bergerak antara 2020–2030.

Di Indonesia, fenomena ini makin kelihatan di kalangan anak muda. Banyak remaja lebih betah menonton video pendek berjam-jam dibanding berolahraga atau sekadar berjalan santai. Akibatnya, tubuh gampang lelah, konsentrasi menurun, dan interaksi sosial berkurang. Lama-lama, generasi muda bisa tumbuh jadi pribadi yang cepat puas, kurang kreatif, dan sulit beradaptasi dengan dunia nyata yang penuh tantangan.

Dampak Sosial dari Gaya Hidup Mager

Mager bukan cuma soal tubuh yang jarang gerak, tapi juga soal sikap hidup yang cenderung pasif. Anak muda yang terbiasa malas bergerak sering kesulitan menjaga disiplin, kehilangan semangat, bahkan enggan terlibat dalam kegiatan sosial. Dalam survei partisipasi politik, misalnya, banyak pemilih muda disebut ā€œmager datang ke TPSā€ karena lebih suka bersantai di rumah.

Kebiasaan ini perlahan mengikis semangat kerja keras yang dulu jadi ciri khas masyarakat Indonesia. Padahal, di tengah persaingan global, bangsa ini butuh generasi yang aktif, tangguh, dan penuh ide. Kalau kebiasaan mager terus dibiarkan, jangan heran kalau produktivitas dan daya saing ikut menurun.