Ternyata Gaya Hidup Sedentari, bisa sebabkan dampak buruk bagi kesehatan, freepik.com
RADARPANGANDARAN.COM- Di era teknologi yang modern ini, hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak lepas dari perangkat digital.
Mulai dari bekerja, belajar, hingga hiburan, generasi masa kini semakin bergantung pada layar gawai, komputer, maupun televisi.
Namun di balik semua kemudahan tersebut, ada ancaman serius yang mengintai, yakni gaya hidup sedentari atau kebiasaan kurang bergerak.
Fenomena ini tidak hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga menimbulkan dampak risiko kesehatan jangka panjang yang cukup mengkhawatirkan.
Generasi digital identik dengan gaya hidup yang serba instan dan praktis. Sayangnya, kemajuan teknologi membuat aktivitas fisik semakin minim.
Banyak orang lebih memilih bekerja berjam-jam di depan komputer, bersosialisasi lewat media sosial, atau menghabiskan waktu menonton konten hiburan daripada bergerak aktif.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mencatat bahwa proporsi penduduk dengan aktivitas fisik rendah meningkat dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018.
Angka ini menunjukkan bahwa tren gaya hidup sedentari semakin meningkat, terutama pada usia produktif.
Gaya hidup sedentari terbukti memiliki dampak buruk bagi tubuh. Berbagai penyakit tidak akan menular (PTM) dapat dipicu oleh kebiasaan duduk terlalu lama tanpa diselingi aktivitas. Berikut beberapa dampak yang perlu diwaspadai:
Kurang bergerak membuat aliran darah tidak lancar, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga stroke. Sebuah studi internasional telah menunjukkan bahwa risiko komplikasi jantung dua kali lipat dialami oleh orang yang duduk lebih dari 10 jam sehari dibandingkan dengan mereka yang lebih aktif.
Aktivitas fisik rendah menyebabkan metabolisme tubuh melambat, sehingga kalori menumpuk dan berpotensi menimbulkan obesitas. Berbagai penyakit serius seperti diabetes tipe 2 dapat dimasuki melalui kondisi obesitas.
Duduk terlalu lama dapat menimbulkan nyeri punggung, leher, hingga masalah pada tulang belakang. Postur tubuh yang salah saat menggunakan gawai juga memperparah risiko kelainan tulang.
Bukan hanya fisik, gaya hidup sedentari juga berpengaruh pada kesehatan mental. Minim aktivitas bisa memicu stres, rasa cemas, bahkan depresi karena tubuh tidak melepaskan hormon endorfin yang biasanya didapat dari aktivitas fisik.
Penelitian menunjukkan orang yang terlalu lama duduk berisiko mengalami pemendekan telomer, yaitu indikator penuaan sel. Artinya, gaya hidup pasif dapat mempercepat proses penuaan pada tubuh.
Penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami bahwa gaya hidup sedentari bukan sekadar kebiasaan sepele.
Page: 1 2
RADARPANGANDARAN.COM - Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia membuka peluang besar untuk mengolah edit foto main…
RADARPANGANDARAN.COM - Dampak bobot EV pada ball joint dan bushing sangat signifikan karena kendaraan listrik membawa…
RADARPANGANDARAN.COM - Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia kini semakin sering dipakai oleh kreator visual yang…
RADARPANGANDARAN.COM - Mesin motor injeksi sering mati saat digas mendadak karena fuel pressure drop, TPS delay,…
RADARPANGANDARAN.COM - Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia kini semakin sering digunakan oleh kreator konten dan…
RADARPANGANDARAN.COM - Taman minimalis tetap nyaman untuk duduk sore tanpa furnitur besar jika desain memperhatikan posisi,…
This website uses cookies.