RADARPANGANDARAN.COM – Hives atau urtikaria kini semakin sering dialami anak muda di Indonesia. Bentol merah yang tiba-tiba muncul dan terasa sangat gatal sering membuat penderitanya panik, karena datang dan hilang tanpa pola.
Walaupun terlihat ringan, kondisi ini memerlukan perhatian karena bisa mengganggu aktivitas. Data global menyebut satu dari lima orang pernah mengalami hives setidaknya sekali seumur hidupnya. Angka ini menjelaskan mengapa fenomena ini terus menjadi perbincangan di dunia medis.
Hives kini lebih sering muncul pada usia 18–30 tahun
Banyak dokter melihat perubahan tren. Kalau dulu hives banyak dikeluhkan usia dewasa, sekarang anak muda 18–30 tahun juga sering datang dengan keluhan yang sama. Tekanan hidup menjadi salah satu penjelas paling kuat.
Tuntutan kuliah, target akademik, tugas yang menumpuk, serta ritme hidup digital yang serba cepat membuat anak muda mudah stres. Tubuh yang tertekan melepaskan histamin berlebihan. Histamin inilah yang memicu munculnya bentol gatal.
Selain itu, pola makan yang tidak teratur juga berperan besar. Banyak anak muda menunda makan karena fokus pada pekerjaan atau kuliah. Telat makan menurunkan gula darah dan membuat tubuh semakin tertekan. Kombinasi kurang makan, kurang tidur, dan stres emosional menyebabkan sistem kekebalan lebih sensitif terhadap pemicu kecil.
Tidak selalu karena alergi makanan
Masyarakat sering menganggap hives hanya muncul karena makan seafood, kacang, atau telur. Faktanya tidak sesederhana itu. Hives bisa muncul saat tubuh menghadapi perubahan suhu yang drastis, udara kering, keringat berlebihan, infeksi virus ringan, kelelahan fisik, bahkan setelah begadang.
Hal ini membuat banyak orang bingung, karena memikirkan bahwa hanya makanan yang bisa memicu bentol tersebut. Anak muda yang sering begadang mengerjakan tugas hingga tengah malam juga lebih berisiko mengalami hives. Tubuh yang tidak mendapatkan cukup istirahat cenderung lebih sensitif. Kulit merespons tekanan internal itu dalam bentuk bentol merah yang muncul cepat.







