Waspada! Hujan Mikroplastik Ancam 18 Kota Indonesia

Selain itu, kota dengan aktivitas industri tinggi dan lalu lintas padat menunjukkan tingkat kontaminasi mikroplastik yang lebih besar. Sebaliknya, kota seperti Malang, yang memiliki banyak area hijau dan aktivitas industri rendah, hanya mencatat dua partikel mikroplastik dalam pengambilan sampel. Kondisi ini menunjukkan betapa besar pengaruh perilaku manusia terhadap kualitas udara dan air hujan.

BRIN Tegaskan Dampak Kesehatan dari Hujan Mengandung Mikroplastik

Hujan mengandung mikroplastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa mikroplastik yang terhirup atau tertelan dapat masuk ke aliran darah dan organ vital, termasuk paru-paru, hati, serta jantung. Partikel mikroskopis ini dapat memicu peradangan, stres oksidatif, dan kerusakan jaringan sel yang menjadi pemicu berbagai penyakit kronis.

Beberapa studi internasional bahkan menemukan mikroplastik dalam jaringan jantung dan paru-paru manusia, yang membuktikan bahwa partikel ini mampu menembus sistem biologis tubuh. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa hujan mikroplastik dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan, terutama bagi masyarakat di perkotaan yang terpapar setiap hari.

Hujan Mengandung Mikroplastik dan Ancaman bagi Ekosistem

Hujan mengandung mikroplastik juga berdampak buruk bagi ekosistem air dan tanah. Saat air hujan yang tercemar masuk ke sungai, danau, atau laut, partikel plastik menyebar dan mengancam kehidupan organisme air. Mikroplastik dapat menumpuk di tubuh ikan, kerang, dan hewan laut lainnya yang akhirnya dikonsumsi manusia. Siklus ini menciptakan rantai kontaminasi plastik dari lingkungan ke tubuh manusia tanpa disadari.