Selain itu, mikroplastik dapat mengganggu struktur tanah dengan menghambat penyerapan air dan oksigen oleh akar tanaman. Akibatnya, kualitas tanah menurun dan produktivitas pertanian berpotensi terganggu. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dampak hujan mikroplastik tidak berhenti di udara, melainkan menyebar ke seluruh lapisan ekosistem.
Upaya Mengatasi Hujan Mengandung Mikroplastik
Hujan mengandung mikroplastik dapat diminimalkan dengan langkah konkret di tingkat individu dan pemerintah. Masyarakat dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti botol minum, kantong belanja, dan kemasan makanan. Mengganti plastik dengan wadah kaca, baja tahan karat, atau bambu menjadi pilihan terbaik untuk menekan sumber polusi.
Selain itu, masyarakat perlu menghentikan kebiasaan membakar sampah plastik, karena proses pembakaran menghasilkan partikel mikroplastik di udara. Pemerintah daerah juga dapat meningkatkan sistem pengelolaan limbah plastik dan memperketat regulasi industri yang berpotensi melepaskan mikroplastik ke udara.
Lembaga penelitian seperti BRIN dan ECOTON menyarankan adanya pemantauan kualitas udara dan curah hujan secara rutin untuk mengetahui tren pencemaran mikroplastik dari waktu ke waktu. Pendidikan publik tentang bahaya mikroplastik juga penting agar masyarakat lebih sadar akan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan.
Hujan mengandung mikroplastik bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan dan masa depan bumi. Temuan ECOTON dan BRIN di 18 kota Indonesia menunjukkan bahwa partikel plastik telah menyatu dengan siklus air, udara, dan kehidupan manusia.







