Konsep Echo Design, Taman yang Tidak Menonjol tapi Menentukan Ruang

RADARPANGANDARAN.COM – Taman sebagai bayangan arsitektur melalui echo design menjadikan lanskap perpanjangan ruang, bukan dekorasi terpisah.

Secara sadar, konsep ini menempatkan taman mengikuti logika bangunan.

Dengan demikian, lanskap tidak bersaing secara visual dengan arsitektur.

Sebaliknya, taman memperkuat struktur ruang bangunan.

Pendekatan ini kerap digunakan dalam arsitektur minimalis.

Echo design menekankan kesinambungan spasial antara bangunan dan tapak.

Karena itu, desainer merancang taman berdasarkan grid dan sumbu bangunan.

Proporsi arsitektur menjadi acuan utama perancangan lanskap.

Desainer memilih material keras dan lunak secara terkendali.

Akibatnya, taman menghadirkan suasana tenang dan tidak dominan.

Pendekatan ini secara tegas menolak ornamen berlebihan.

Sebaliknya, kesederhanaan menjadi nilai desain utama.

James Corner memandang lanskap sebagai sistem pendukung ruang.

Menurut Corner, lanskap tidak perlu tampil ekspresif.

Ia menjelaskan pendekatan ini dalam Recovering Landscape (1999).

Karena itu, taman berfungsi sebagai kerangka spasial arsitektur.

Konsep ini juga dikenal sebagai secondary landscape.

Prinsip Echo Design dalam Taman Arsitektural

Echo design bekerja dengan mengulang logika arsitektur secara konsisten.

Desainer menggunakan grid bangunan sebagai pola dasar taman.

Sumbu visual bangunan diperpanjang hingga area lanskap.

Dengan demikian, ruang luar terasa menyatu dengan interior.

Peter Walker menekankan pentingnya kontrol visual dalam lanskap.

Dalam Minimalist Gardens (1997), Walker menolak narasi dekoratif.