Penurunan serotonin juga membuat seseorang sulit merasa puas. Hal ini menimbulkan frustrasi yang kemudian berujung pada kemarahan. Jika kondisi berlangsung lama, risiko depresi dan kecemasan ikut meningkat.
Gangguan Regenerasi dan Keseimbangan Hormon
Kurang tidur memicu amarah naik karena tubuh gagal melakukan regenerasi sel dengan maksimal. Regenerasi sel yang terganggu berdampak pada fungsi otak dan hormon. Akibatnya, sistem hormonal menjadi tidak stabil.
Kondisi ini memengaruhi cara tubuh menghadapi stres. Alih-alih tenang, tubuh merespons dengan emosi berlebihan. Gangguan keseimbangan hormon inilah yang membuat amarah lebih mudah muncul meskipun pemicunya kecil.
Kesulitan Menghadapi Stres
Kurang tidur memicu amarah naik karena kemampuan menghadapi stres menurun. Biasanya, otak membutuhkan tidur untuk memproses pengalaman harian. Namun, kurang tidur membuat otak tidak sempat memilah mana informasi penting dan mana yang bisa diabaikan.
Ketika menghadapi masalah, orang yang lelah lebih cepat marah karena daya tahan emosionalnya menurun. Situasi ini menjelaskan mengapa tidur yang cukup menjadi salah satu kunci dalam mengelola stres harian.
Tanda-Tanda Emosi Terganggu karena Kurang Tidur
Kurang tidur memicu amarah naik, dan tanda-tandanya dapat terlihat jelas dalam perilaku sehari-hari:
- Emosi mudah tersulut hanya karena hal kecil.
- Rasa kesal dan frustrasi muncul lebih sering.
- Konsentrasi sulit dipertahankan.
- Mood naik turun tanpa alasan jelas.
- Toleransi terhadap stres menurun drastis.
Jika tanda-tanda ini muncul secara konsisten, berarti kualitas tidur sangat perlu diperhatikan.
Dampak Jangka Panjang Kurang Tidur
Kurang tidur memicu amarah naik bukan hanya dalam jangka pendek, tetapi juga membawa dampak serius dalam jangka panjang. Gangguan emosi kronis dapat merusak hubungan sosial, menurunkan performa kerja, bahkan meningkatkan risiko penyakit mental.













