RADARPANGANDARAN.COM – Makeup dalam lintasan sejarah bukan sekadar alat untuk mempercantik diri, tetapi juga mencerminkan perjalanan budaya, status sosial, dan identitas manusia dari zaman ke zaman.
Berbagai peradaban menggunakan makeup untuk beragam tujuan, mulai dari ritual keagamaan, perlindungan spiritual, hingga simbol kekuasaan.
Makeup dalam lintasan sejarah dicatat bagaimana makeup hadir di hampir setiap sudut dunia, berkembang mengikuti perubahan zaman dan norma masyarakat.
Manusia telah mengembangkan makeup dari Mesir Kuno hingga era digital saat ini, tidak hanya dalam bentuk dan bahan, tetapi juga dalam makna yang melekat pada penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari
Akar Makeup di Dunia Kuno
Sejarah mencatat, bangsa Mesir Kuno menjadi salah satu pelopor penggunaan makeup. Sekitar 4000 tahun sebelum Masehi, mereka memanfaatkan bahan alami seperti batu malakit hijau dan galena hitam untuk menghias mata.
Masyarakat Mesir Kuno menggunakan riasan mata berbentuk ‘cat-eye’ yang ikonik, tidak hanya untuk keperluan estetika, tetapi juga sebagai pelindung dari roh jahat dan sinar matahari. Cleopatra, sosok legendaris Mesir, memperkuat tren ini dengan memakai makeup secara dramatis dan berani
Di wilayah lain, bangsa Yunani dan Romawi Kuno menggunakan timbal putih untuk memutihkan wajah, serta pewarna merah dari tanaman untuk mempercantik bibir dan pipi.
Sayangnya, sebagian besar bahan yang mereka gunakan bersifat toksik, namun saat itu masyarakat belum memahami dampaknya bagi kesehatan.
Abad Pertengahan hingga Revolusi Industri
Memasuki Abad Pertengahan, gereja di Eropa mengecam penggunaan makeup karena dianggap sebagai simbol kesombongan dan tipu daya. Namun, kalangan bangsawan tetap menggunakannya secara diam-diam. Kulit pucat menjadi tren karena melambangkan kemurnian dan status tinggi, mengingat mereka tidak perlu bekerja di bawah terik matahari.







