Mengapa Generasi Z Lebih Tertarik Wisata Instagramable Dengan Spot Foto Unik?

Tak perlu jauh-jauh, di wilayah kita saja sudah muncul banyak café aesthetic yang menawarkan suasana minimalis-modern sebagai daya tarik. Apalagi di kota besar, seperti di Yogyakarta, Bandung dan Malang, hadir taman wisata dengan spot foto berkonsep luar negeri yang bisa mendatangkan ribuan pengunjung tiap pekan.

Bahkan di desa wisata, warganya kini kreatif membuat mural, gapura bunga, hingga spot ayunan di tepi tebing demi memenuhi selera generasi muda.

Namun, yang menarik, tidak sedikit pula wisatawan yang lebih memilih spot foto alami seperti pantai tersembunyi, hutan pinus, danau, hingga sawah berundak. Keaslian dan keindahan alami ini dianggap lebih “jujur” dan otentik dibanding instalasi buatan.

Apa Saja Dampak Positif dan Negatif dari Fenomena Ini?

Fenomena wisata Instagramable memberikan dampak positif nyata. Unggahan foto dan video wisatawan muda menjadi promosi gratis yang sangat efektif bagi destinasi. Banyak tempat yang dulunya sepi pengunjung kini viral berkat satu unggahan TikTok atau Instagram Reel.

Dampak ekonomi juga terasa. UMKM lokal, penyedia homestay, hingga pedagang makanan sekitar destinasi ikut merasakan peningkatan pendapatan.

Generasi Z yang gemar berwisata biasanya juga suka berbelanja oleh-oleh unik atau kuliner khas daerah, sehingga roda ekonomi lokal ikut berputar.

Namun, di balik gemerlap fenomena ini, ada sisi lain yang perlu kita sama-sama cermati.

Pertama, kecenderungan wisata hanya untuk foto-foto berpotensi melahirkan pengalaman superfisial. Banyak wisatawan datang sebentar, mengambil gambar, lalu pergi tanpa benar-benar menikmati atau memahami nilai budaya dan alam tempat tersebut.