RADARPANGANDARAN.COM — Di Jawa Barat, khususnya wilayah Sunda, penggunaan arah mata angin bukan sekadar istilah kuno. Ini bahasa yang masih hidup di mulut masyarakat. Bahkan hingga hari ini, warga Sunda tradisional masih menyimpan dan memakai istilah-istilah arah ini dalam percakapan sehari-hari, terutama saat membicarakan lokasi kampung, sawah, makam keluarga, atau arah perjalanan.
Empat Nama Arah Dasar Dalam Bahasa Sunda
Secara umum, arah mata angin dalam bahasa Sunda memiliki padanan yang jelas:
- Kalér = Utara
- Kidul = Selatan
- Wetan = Timur
- Kulon = Barat
ini empat istilah dasar yang jadi fondasi arah absolut dalam tradisi Sunda. Di wilayah Priangan, istilah ini bahkan masih muncul dalam petunjuk informal di rumah-rumah, saat warga menunjukkan posisi tempat, atau saat menunjuk rute “kampung anu di wetan jalan ka balé desa”.
Ada Arah Turunan Yang Lebih Detail
Budaya Sunda juga mengenal istilah arah turunan, biasanya saat menunjuk arah lebih spesifik atau antara mata angin besar, misalnya:
- Kalér-wetan (timur laut)
- Kalér-kulon (barat laut)
- Kidul-wetan (tenggara)
- Kidul-kulon (barat daya)
Penggunaan istilah turunan ini masih terdengar di kampung tua, khususnya ketika percakapan melibatkan orientasi geografis yang cukup luas, misalnya area persawahan, orientasi gunung, atau posisi desa yang saling berhadapan.
Arah Dalam Sunda Berkaitan Dengan Ruang Kosmologi Tradisional
Bagi masyarakat Sunda masa lampau, arah bukan sekedar koordinat. Arah mengandung identitas ruang. Ada hubungan antara arah dengan orientasi diri, arah ibadah, serta arah tempat penting.
Sebagian ahli antropologi Jawa Barat menyebut bahwa arah dalam budaya Sunda juga tersambung dengan orientasi matahari. Terutama wetan (timur) sebagai arah cahaya, dan kulon (barat) sebagai arah lenyapnya cahaya. Itulah sebabnya arah absolut di budaya Sunda tidak pernah mati. Ia menjadi bagian abstrak dari cara masyarakat memahami dunia.













