- 2 sdm minyak sayur
- 1 siung bawang putih cincang, panaskan hingga kecokelatan
Setelah tiga komponen utama siap, kita baru pindah ke proses masak kuah. Di sini transisi rasa dimulai.
Teknik Memasak Kuah (Bagian yang menentukan)
Ketika kita mulai merebus kuah, ini bukan asal rebus. Ini ritual.
- Rebus tulang ayam 5 menit → buang air keruhnya
- Isi air baru 2 liter → masukkan tulang + paha ayam + bawang + jahe
- Kecilkan api ke posisi “sangat kecil” → rebus minimal 2 jam
- Saring kuah → pisahkan tulang dan sayuran
Di Jepang, ini disebut chintan, yaitu kuah bening tapi punya kedalaman rasa. Bila ingin versi creamy (paitan), blender sebagian kuah dengan sedikit daging ayam rebus lalu campur kembali. Pada titik ini, rasa mulai naik bertahap, bukan sekaligus “diasal” bumbu.
Merakit Mangkuk Ramen (Inilah Rahasianya)
Setelah kuah jadi, proses perakitan tidak boleh acak. Ini sebabnya ramen versi rumah sering tidak terasa seperti di restoran, meski bahan sudah tepat. Karena urutannya sering salah.
Urutan benar adalah:
- masukkan tare dulu di dasar mangkuk
- tambah sedikit aroma oil
- tuang kuah panas
- baru masukkan mi ramen
- terakhir, tata topping di atasnya
Inilah cara Jepang merakit rasa.
Ayo Coba Buat!
Pada akhirnya, membuat ramen halal di rumah bukan hanya soal memasak, tetapi soal mempelajari struktur cita rasa Jepang. Ramen halal ini tetap relevan dan tetap dianggap autentik karena secara konsep tidak berbeda sama sekali dengan ramen Jepang.
Jika kita mengikuti urutan tare → aroma oil → kuah → mi, maka bahkan ramen rumahan pun bisa membawa sensasi restoran Jepang ke dapur sendiri.
Jika ingin menaikkan kualitasnya lagi, tinggal eksplor topping halal seperti chasiu ayam homemade, jamur shitake, nori, atau jagung manis Hokkaido style. Semua itu hanya bagian finishing. Fondasinya tetap tiga komponen tadi.













