Pesan Bijak Gus Baha Tentang Amalan-Amalan Kecil yang Berdampak Besar Dalam Kehidupan

Pesan bijak Gus Baha dalam hal ini tercermin dalam salah satu contoh nyata dalam perbuatan sehari-hari berikut ini.

Misalnya, ketika kita berbicara tentang ketahanan pangan, misalnya, seringkali yang mendapatkan pujian adalah para pejabat yang berpartisipasi dalam rapat-rapat besar dan penting.

“Ini penting saya sampaikan, kalau tidak disampaikan? Nanti ada kebodohan massal” ucap Gus Baha.

“Di mana orang yang rapat tentang ketahanan pangan, karena dihadiri oleh menteri dan staf-stafnya, orang itu akan dianggap berprestasi karena bisa menjaga ketahanan pangan, ‘kuota pangan cukup’.

Padahal haekatnya yang mempertahankan pangan itu siapa coba? Kalau dari setiap individu? Ada tukang becak miskin. Dia hari itu tidak bisa makan” tutur Gus Baha memulai salah satu kisah yang kerao terjadi di kehidupan nyata.

Beliau lalu melanjutkan kisah tukang becak tersebut yang kemudian ditolong oleh temannya sesama tukang becak.

“Ditolong oleh tukang becak, dihutangi (dipinjami-red) 20 ribu. Anak istrinya jadi makan. Dan Allah pasti tahu yang menjaga nyawa tukang becak ini adalah temannya tukang becak. Bukan pejabat-pejabat yang rapat di hotel berbintang” lanjut Gus Baha.

Bantuan dari sesama tukang becak itu merupakan wujud nyata dari ‘ketahanan pangan’ yang terjadi secara nyata di kehidupan sehari-hari.

Meskipun tidak ada sorotan media atau pujian dari pejabat, Allah tetap mencatat amalnya dengan sebaik-baiknya.

Nasehat Gus Baha ini mengajak kita untuk merefleksikan makna sesungguhnya dari amal kebaikan.