Mereka menyoroti aspek higienitas dapur, cara pengolahan, serta rantai distribusi yang tidak selalu memenuhi standar kesehatan.
Beberapa sekolah diduga menggunakan jasa katering lokal tanpa melalui seleksi ketat. Hal ini menimbulkan risiko kontaminasi karena tidak semua penyedia jasa makanan memiliki fasilitas yang sesuai dengan standar keamanan pangan.
Reaksi Orang Tua dan Masyarakat
Insiden ini menimbulkan keresahan di kalangan orang tua. Banyak dari mereka menuntut agar sekolah lebih selektif dalam memilih penyedia makanan. Sebagian bahkan meminta program makan gratis dihentikan sementara sampai ada jaminan keamanan pangan.
Di media sosial, warganet ramai membahas kasus ini. Tagar terkait program makan gratis sempat menjadi trending, dengan berbagai opini yang terbagi.
Ada yang mendukung program ini sebagai upaya meningkatkan gizi anak, namun tidak sedikit yang menilai pelaksanaannya tergesa-gesa tanpa persiapan matang.
Program MBG Tetap Dibutuhkan
Meski menuai kritik, sebagian pakar menegaskan bahwa program makan gratis tetap penting untuk mengatasi masalah gizi pada anak sekolah, terutama di daerah dengan angka stunting tinggi.
Mereka menilai perbaikan sistem distribusi, peningkatan pengawasan, serta transparansi kerja sama dengan penyedia makanan bisa menjadi solusi.
Jika mereka mengelola dengan baik, program ini mampu meningkatkan kualitas gizi anak, menekan angka putus sekolah, dan memperkuat generasi muda. Namun tanpa pengawasan ketat, program justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan siswa.







