Dari Januari hingga September 2025, Indonesia mencatat 11,43 juta wisatawan mancanegara. Angka ini tumbuh 10,22 persen dibanding periode sebelumnya dan diproyeksikan tembus 14-15 juta kunjungan pada akhir tahun.
Bali sendiri menyumbang sekitar 5,3 juta wisatawan mancanegara. Data ini menegaskan posisinya sebagai episentrum pariwisata nasional.
Tren global pun mendukung. Laporan Sustainable Travel Report 2024 menyebut wisatawan dunia kini lebih mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
Wisata berbasis alam dan pengalaman yang autentik menjadi pilihan utama, termasuk bagi segmen luxury traveler. Asia bahkan menjadi tujuan favorit untuk retreat dan perjalanan pemulihan diri.
Kondisi ini membuat Sanggraloka Ubud berada pada posisi strategis. Resort ini menawarkan konsep eco-luxury yang banyak dicari wisatawan modern, sejalan dengan fokus pemerintah dalam memperkuat wellness dan cultural tourism.
Pendapatan Non Kamar Tumbuh Pesat
Perubahan landscape permintaan terlihat dari struktur pendapatan Sanggraloka. Berbeda dari resort premium pada umumnya, 34–38 persen pendapatan berasal dari wellness, kuliner dan event boutique.
Mulai dari kelas memasak bahan organik, sesi sound healing di tepi sungai hingga wedding intimate di Anandam Chapel.
Pada semester pertama 2026, Sanggraloka menargetkan 25 persen pendapatan total berasal dari wellness dan event.
Strategi ini didorong oleh paket terkurasi dan kolaborasi dengan operator retreat global serta spesialis micro-wedding.
Dalam sebuah penyampaian internal, I Wayan Lanus, Direktur dan Partner Sanggraloka Ubud, mengatakan pariwisata tidak perlu memilih antara pertumbuhan dan keberlanjutan.












