Sarapan dan Anemia Remaja Putri: Bukti Ilmiah dari Penelitian SMAN 1 Kartasura

RADARPANGANDARAN.COM – Sarapan dan anemia pada remaja putri terbukti saling berhubungan kuat menurut penelitian di SMAN 1 Kartasura. Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang sering melewatkan sarapan memiliki risiko hampir delapan kali lebih tinggi untuk mengalami anemia.

Penelitian yang melibatkan 83 siswi ini menghasilkan nilai p=0,001, sehingga hubungan tersebut terbukti signifikan. Kebiasaan tidak sarapan menurunkan rata-rata hemoglobin dari 12,4 g/dL menjadi 11,5 g/dL, sehingga tubuh tidak mampu membentuk sel darah merah dengan baik.

Selain itu, kasus anemia meningkat secara nasional karena banyak remaja memiliki pola makan kurang teratur, mengalami menstruasi setiap bulan, dan kekurangan zat besi serta vitamin B12.

Mekanisme Sarapan dalam Mencegah Anemia

Sarapan bergizi mendukung pembentukan hemoglobin karena tubuh membutuhkan zat besi, asam folat, protein, dan vitamin B12 untuk memproduksi eritrosit. Sarapan juga menyediakan 15–30% kebutuhan gizi harian sehingga tubuh memulai aktivitas dengan kondisi metabolisme stabil.

Selain itu, sarapan membantu menjaga keseimbangan gula darah yang memengaruhi energi, fokus, dan fungsi kognitif remaja. Sarapan yang teratur meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari sayuran hijau terutama jika dikombinasikan vitamin C, sehingga tubuh mampu membawa oksigen ke seluruh jaringan.

Sarapan harian juga menurunkan risiko anemia hingga 1,75 kali karena nutrisi yang masuk langsung berperan dalam sintesis hemoglobin. Selanjutnya, penelitian menunjukkan bahwa 60,8% remaja yang tidak sarapan mengalami anemia, sedangkan kelompok yang rutin sarapan memiliki kadar hemoglobin normal.