RADARPANGANDARAN.COM – Taman anti ornamental menempatkan ruang, cahaya, dan proporsi sebagai inti desain, bukan hiasan visual.
Secara tegas, konsep ini menolak patung, ornamen, dan elemen simbolik.
Dengan demikian, taman hadir sebagai ruang pengalaman, bukan objek pameran.
Pendekatan ini banyak digunakan arsitek dalam praktik arsitektur modern.
Desainnya tampak sederhana, namun menghadirkan kekuatan ruang yang jelas.
Keheningan visual menjadi kualitas utama taman ini.
Desainer tidak memilih tanaman untuk tujuan dekoratif.
Sebaliknya, tanaman membentuk dan membatasi ruang.
Karena itu, desainer memusatkan perhatian pada pengalaman pengguna.
Taman tidak mengajak orang memandang, melainkan mengalami ruang.
Pendekatan ini relevan untuk rumah modern dan galeri seni.
Oleh sebab itu, banyak arsitek memanfaatkannya untuk ruang kontemplatif.
Taman berperan sebagai latar, bukan pusat perhatian visual.
Inilah alasan banyak pihak menyebutnya taman anti ornamental.
Dasar Teoretis Taman Tanpa Komposisi Dekoratif
Konsep taman tanpa dekorasi berakar dari pemikiran modernisme awal.
Desainer kemudian menerjemahkan prinsip ini ke taman sebagai ruang fungsional.
Desainer tidak memperlakukan tanaman sebagai dekorasi visual.
Sebaliknya, elemen taman hadir karena kebutuhan ruang.
Prinsip “less is more” menjadi landasan utama desain.
Desainer merancang taman dengan elemen minimum.
Namun demikian, ruang yang tercipta memberi dampak maksimum.
Desainer menghilangkan focal point dekoratif.
Komposisi visual bukan lagi tujuan utama.







