RADARPANGANDARAN.COM –Â Taman minimalis tetap rapi meski banyak sepatu di teras jika pemilik merancang zona transisi kering sejak awal.
Masalah sepatu menumpuk sering muncul di rumah tropis, terutama saat musim hujan.
Selain itu, hujan kerap membuat teras cepat basah dan kotor.
Karena itu, desainer menghadirkan zona transisi kering sebagai solusi efektif.
Konsep ini kemudian memisahkan area luar dan dalam rumah secara jelas.
Desain yang matang menjaga tampilan tetap bersih dan modern.
Namun demikian, banyak orang masih menaruh sepatu secara terbuka.
Akibatnya, teras tampak penuh dan kurang higienis.
Dengan pendekatan minimalis, pemilik dapat mengatur seluruh elemen secara rapi.
Selain fungsional, desainnya tetap nyaman dipandang.
Material yang tepat juga membantu menjaga kebersihan jangka panjang.
Oleh sebab itu, perencanaan sejak awal menjadi sangat penting.
Bahkan, teras sempit pun tetap terasa lapang.
Kuncinya terletak pada pembagian zona yang jelas dan terarah.
Konsep Area Transisi Kering untuk Taman Minimalis
Area transisi kering berfungsi sebagai batas jelas antara halaman dan pintu utama.
Secara konsep, desain ini terinspirasi dari genkan Jepang yang sederhana.
Namun, arsitek menyesuaikannya dengan iklim tropis Indonesia.
Buatlah perbedaan level lima hingga sepuluh sentimeter untuk menahan air.
Selain itu, gunakan material berbeda sebagai penanda setiap zona.
Pilih lantai matte anti licin agar lebih aman.
Andesit bakar dan tile outdoor R11 menjadi opsi yang andal.
Atur kemiringan lantai satu hingga dua persen menjauh dari pintu.













