Dengan cara ini, sistem tetap stabil dalam jangka panjang.
Desainer juga menyiapkan saluran overflow untuk hujan ekstrem.
Air berlebih kemudian mengalir ke saluran depan rumah.
Selain itu, desainer menjaga jarak sumur minimal satu meter dari fondasi.
Mereka mengatur kemiringan tanah satu hingga dua persen menjauh bangunan.
Dengan begitu, air tidak kembali ke dinding rumah.
Sebagai alternatif, desainer menanam infiltration trench di bawah kerikil.
Permukaan taman tetap terlihat linear dan bersih.
Paving berpori turut meningkatkan kapasitas infiltrasi.
Dengan pendekatan tersebut, fungsi dan tampilan tetap seimbang.
Detail Teknis dan Tanaman Pendukung Rain Garden Minimalis
Rain garden minimalis memerlukan kombinasi media tanam dan agregat tepat.
Desainer menggunakan tanah berpasir setebal dua puluh sentimeter sebagai lapisan atas.
Di bawahnya, mereka menempatkan agregat berukuran dua hingga lima sentimeter.
Lapisan ini membantu air meresap secara merata.
Selain itu, sistem ini mengurangi limpasan permukaan.
Karena itu, sistem ini cocok untuk rumah tropis.
Talang depan terbuka tetap menjadi elemen visual utama.
Namun, desainer mencegah percikan air dengan splash strip kerikil.
Detail drip edge juga melindungi fasad dari noda air.
Desainer memilih tanaman yang toleran terhadap kondisi basah dan kering.
Rumput vetiver menawarkan akar dalam dan kuat.
Selain itu, lili paris cocok untuk skala taman kecil.
Pandan bali memberi aksen hijau yang rapi.
Heliconia dwarf dapat menjadi elemen fokus taman.
Namun, pemilik harus menyesuaikan skala tanaman dengan ukuran halaman.













