Selanjutnya, manfaatkan perbedaan tekstur ringan antar material.
Transisi halus menciptakan lapisan visual yang subtil.
Namun, hindari kontras warna yang terlalu tajam.
Sebagai contoh, gradasi abu muda ke abu tua memberi efek receding.
Selain itu, buat shadow line di tepi planter.
Celah tipis dua sentimeter sudah cukup menciptakan bayangan tegas.
Bayangan tersebut kemudian memperkuat layering tipis secara optik.
Akibatnya, ruang terasa memiliki urutan meski sebenarnya pendek.
Kemudian, gunakan vertical plane sebagai framing visual.
Panel vertikal ramping membantu membentuk kesan kedalaman.
Kevin Lynch menyebut framing sebagai pembentuk arah pandangan.
Karena itu, gunakan dinding roster tipis sebagai solusi ringan.
Namun demikian, hindari elemen yang terlalu tebal.
Bidang ringan memberi kesan ruang terus berlanjut.
Dengan demikian, teras terasa lebih panjang dan terarah.
Layering Tipis dan Elemen Minimalis yang Efektif
Layering tipis efektif menciptakan urutan pada ruang kecil.
Sebagai langkah awal, buat dua atau tiga layer saja.
Contohnya, susun teras utama, gravel strip, lalu planter linear.
Setiap layer memiliki perbedaan elevasi tipis yang terukur.
Perbedaan lima sentimeter sudah cukup terasa secara visual.
Namun, jangan menambahkan terlalu banyak level.
Layer berlebihan justru mempersempit persepsi ruang.
Selain itu, gunakan tanaman vertikal dengan struktur ramping.
Hindari tanaman melebar yang memakan lebar teras.
Karena itu, pilih tanaman dengan struktur tegak dan ringan.
Tanaman seperti bambu mini atau pandan bali dapat menjadi pilihan.













