RADARPANGANDARAN.COM –Â Taman penyeimbang visual berfungsi sebagai counterweight visual untuk meredam dominasi bangunan dan menyeimbangkan desain secara nyaman.
Secara umum, arsitek banyak menggunakan konsep ini dalam arsitektur modern.
Kini, taman tidak lagi berperan sebagai elemen dekoratif semata.
Sebaliknya, desainer memanfaatkan taman sebagai alat komposisi visual strategis.
Bangunan bermassa besar sering menciptakan tekanan visual berlebihan.
Karena itu, perancang menggunakan ruang terbuka sebagai elemen penyeimbang.
Elemen hijau menghadirkan kesan ringan dan memberi ruang bernapas visual.
Pendekatan ini tetap efektif tanpa mengandalkan simetri.
Bahkan, desain asimetris sering terasa lebih alami.
Banyak arsitek menerapkan prinsip ini secara sadar.
Taman kemudian berperan sebagai jeda visual.
Ruang ini membantu mata beristirahat sejenak.
Selain itu, taman meningkatkan kenyamanan psikologis.
Lingkungan pun terasa lebih ramah dan manusiawi.
Konsep ini relevan bagi hunian maupun kawasan publik.
Prinsipnya sederhana, namun dampaknya signifikan.
Prinsip Visual Balance dalam Konsep Taman Penyeimbang
Konsep taman penyeimbang visual berangkat dari teori keseimbangan visual dalam desain.
Elemen berat memerlukan elemen penyeimbang.
Bangunan beton memiliki bobot visual tinggi.
Warna gelap dan tekstur kasar memperkuat kesan berat tersebut.
Sebaliknya, taman menghadirkan bobot visual ringan.
Ruang hijau memberi efek visual menenangkan.
Keseimbangan visual tidak selalu membutuhkan simetri.
Asimetri justru menciptakan dinamika ruang.







