Ternyata Ini Alasan di Balik Seseorang Melakukan Bullying

Tekanan sosial seperti ini membuat remaja sulit menolak karena mereka takut kehilangan penerimaan kelompok.

Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk mengajarkan anak cara memilih teman dengan bijak serta berani menolak ajakan negatif.

4. Pernah Menjadi Korban Bullying

Ironisnya, pelaku bullying sering kali dulunya adalah korban. Pengalaman buruk itu membuat mereka tumbuh dengan luka batin yang mendalam.

Alih-alih memproses trauma secara sehat, mereka justru meniru perilaku pelaku sebelumnya agar merasa “setara”.

Mereka berpikir, dengan melakukan hal yang sama, tidak akan ada orang lain yang bisa merendahkannya lagi. Siklus ini berbahaya karena bisa berlangsung terus-menerus jika tidak ada intervensi psikologis yang tepat.

5. Kurangnya Empati dan Pendidikan Emosional

Kurangnya empati juga menjadi penyebab seseorang melakukan bullying. Individu yang tidak diajarkan untuk memahami perasaan orang lain akan sulit menyesuaikan perilakunya.

Mereka tidak menyadari bahwa ejekan, hinaan, atau kekerasan verbal bisa melukai orang lain secara mendalam.

Selain itu, sistem pendidikan yang terlalu menekankan prestasi akademik sering kali melupakan pentingnya pendidikan karakter dan pengendalian emosi.

6. Pengaruh Media Sosial

Di era digital, media sosial menjadi ruang baru bagi perilaku bullying. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau X (Twitter), seseorang bisa dengan mudah menyebarkan komentar negatif, ejekan, atau konten yang mempermalukan orang lain.

Anonimitas dan jarak digital membuat pelaku merasa lebih bebas melakukan kekerasan verbal tanpa rasa bersalah. Bahkan, banyak yang tidak sadar bahwa ucapannya bisa menghancurkan kepercayaan diri korban.

7. Keinginan untuk Balas Dendam atau Melampiaskan Emosi

Beberapa orang melakukan bullying karena ingin melampiaskan rasa sakit hati atau dendam. Mungkin mereka pernah disakiti, diabaikan, atau dipermalukan oleh orang lain, lalu mencari “target” yang dianggap lebih lemah.