Model ini berupaya mengintegrasikan spiritualitas tasawuf dengan agenda kebangsaan.
Konsep tersebut berpijak pada fakta sejarah bahwa pesantren dan tarekat bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga institusi sosial yang memiliki peran dalam menjaga stabilitas masyarakat serta membentuk karakter bangsa.
Dalam pendekatan ini, spiritualitas tidak ditempatkan sebagai urusan privat semata.
Nilai-nilai tasawuf seperti keikhlasan, pengendalian diri, dan kasih sayang diterjemahkan ke dalam praktik sosial yang konkret.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya sembilan pilar peradaban dunia, yang mencakup penghormatan, cinta kasih, anti-konflik, integritas moral dan keseimbangan antara aspek lahir dan batin sebagai fondasi masyarakat berkeadaban.
Membangun Tradisi Reflektif
Melalui inisiatif tersebut, panitia berharap tumbuh kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki dimensi historis sekaligus spiritual yang perlu dirawat secara berkelanjutan.
Momentum 9 Ramadhan diharapkan dapat berkembang menjadi ruang refleksi tahunan yang memperkuat nilai kebangsaan dan ukhuwah.
Dalam jangka panjang, gagasan ini membuka peluang lahirnya tradisi baru dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia, yakni memperingati kemerdekaan tidak hanya secara seremonial, tetapi juga secara reflektif dan transformatif.












