RADARPANGANDARAN.COM – Praktisi gentle parenting sekaligus influencer, Halimah mengingatkan remaja agar lebih bijak menggunakan media sosial dan memahami risiko jejak digital yang bersifat permanen dalam kehidupan modern.
Melansir laman Infopublik.id, pesan tersebut disampaikan Halimah saat hadir dalam Forum Sahabat Tunas bertema “Aman di Dunia Maya, Sehat di Dunia Nyata” di SMPN 25 Kota Tangerang, Banten, Kamis 21 Mei 2026.
Dalam dialog interaktif itu, Halimah mengajak para siswa membicarakan pengalaman mereka saat menggunakan media sosial sehari-hari.
Ia mencontohkan kebiasaan membeli produk skincare karena pengaruh influencer hingga membuat konten joget yang akhirnya terasa memalukan ketika dilihat kembali.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa ruang digital tidak selalu aman bagi kalangan remaja.
“Apapun yang kita upload ke sosmed akan jadi jejak digital abadi. Bisa di-download, di-screen record, disebar, dan selamanya ada di situ,” ujarnya.
Halimah juga menyoroti tren penggunaan akun anonim atau second account yang kini banyak dimiliki remaja.
Ia menjelaskan akun anonim biasanya dipakai seseorang untuk mengekspresikan diri tanpa diketahui identitas aslinya.
Validasi Media Sosial Bukan Hal Utama
Meski begitu, Halimah mengingatkan bahwa akun anonim tetap memiliki risiko karena konten yang dibagikan bisa tersebar luas.
Ia juga menekankan bahwa validasi dari media sosial bukan ukuran utama dalam kehidupan seseorang.
“Aku punya 1,3 juta followers, tapi ketika sakit, yang nungguin aku bukan followers, melainkan teman-teman yang benar-benar kenal di dunia nyata,” katanya.
Menurut Halimah, banyak remaja kini bercita-cita menjadi influencer, streamer, atau YouTuber karena pengaruh besar media sosial.
Namun ia mengajak generasi muda untuk tetap menggali kemampuan lain di luar dunia digital.
Ia menegaskan penggunaan gadget dan internet bukan sesuatu yang harus dijauhi, tetapi perlu disertai batasan yang sehat.
Remaja juga disarankan tetap berkreasi menggunakan aplikasi edit video atau membuat konten tanpa harus mengunggah semuanya ke media sosial.
“Boleh pakai internet, tapi harus tahu batasan,” pungkasnya.
Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat penting bagi remaja dan orang tua dalam membangun pola parenting yang sehat di era digital.







