RADARPANGANDARAN.COM – Penguatan diplomasi filantropi berbasis ZISWAF mulai diarahkan sebagai strategi baru dalam mendukung perjuangan kemanusiaan rakyat Palestina.
Dilansir dari laman kemenag.go.id, gagasan tersebut dibahas dalam audiensi Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag bersama sejumlah lembaga kemanusiaan dan LAZ nasional di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Pertemuan itu menyoroti pentingnya peran zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya sebagai bantuan, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi global.
ZISWAF SEBAGAI KEKUATAN DIPLOMASI KEMANUSIAAN
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghofur, menilai solidaritas terhadap Palestina perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih strategis dan berkelanjutan.
“Filantropi Islam tidak cukup hanya menjadi instrumen bantuan. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf harus dioptimalkan menjadi instrumen diplomasi kemanusiaan yang mampu memperkuat posisi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan dan hak-hak rakyat Palestina,” ujar Waryono.
Ia menjelaskan bahwa hambatan bantuan kemanusiaan di lapangan tidak hanya soal logistik, tetapi juga berkaitan dengan isu geopolitik dan akses internasional.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, Baznas, LAZ, dan berbagai organisasi kemanusiaan dinilai menjadi kunci penguatan peran Indonesia.
Waryono juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan ekosistem zakat yang terus berkembang.
Ia sejalan dengan pandangan Menag Nasaruddin Umar yang menilai potensi dana umat sebagai kekuatan sosial dan spiritual yang strategis.







