Kemenkes Soroti Lonjakan Gangguan Mental Anak di Lingkungan Sekolah

RADARPANGANDARAN.COM – Banyak anak terlihat ceria di sekolah, tetapi diam-diam menyimpan tekanan mental yang sulit mereka ungkapkan kepada orang lain.

Dilansir dari Infopublik.id, Kementerian Kesehatan kini memperkuat pengawasan kesehatan jiwa anak karena tantangan psikologis generasi muda dinilai semakin berat akibat pengaruh sosial dan dunia digital.

Ketua Tim Kerja Deteksi Dini dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Yunita Arihandayani, menyebut tekanan yang dihadapi anak saat ini jauh berbeda dibanding masa lalu.

“Kalau dulu tekanan mungkin hanya dari rumah, sekolah, atau pertemanan. Sekarang anak menghadapi tekanan dari banyak arah, termasuk media sosial, cyberbullying, dan isolasi sosial,” ujar Yunita dalam webinar bersama KemenPPPA dan Kemendikdasmen, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, sekolah menjadi tempat paling penting untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental sejak dini karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di lingkungan pendidikan.

Ia meminta guru, terutama guru bimbingan konseling, lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa sebelum kondisi mereka memburuk.

“Jangan menunggu anak berada dalam krisis baru kita hadir membantu,” pesannya.

Ratusan Ribu Anak Terdeteksi Mengalami Depresi dan Kecemasan

Program Cek Kesehatan Gratis Sekolah sepanjang 2025 mencatat sebanyak 7,6 juta anak usia 7 hingga 17 tahun telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa.

Hasil pemeriksaan menunjukkan sekitar 363 ribu anak mengalami gejala depresi dan sekitar 338 ribu anak lainnya mengalami kecemasan.