RADARPANGANDARAN.COM – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meminta BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya berfokus pada pemberian kompensasi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan kecelakaan kerja di Indonesia.
Dilansir dari Infopublik.id, dorongan tersebut muncul setelah tingginya angka kecelakaan kerja nasional sepanjang 2025 yang masih menjadi perhatian pemerintah.
Data mencatat terdapat 319.224 klaim kecelakaan kerja selama tahun lalu.
Dari jumlah itu, sebanyak 9.834 kasus berakhir dengan kematian pekerja.
Selain itu, 4.133 kasus lainnya menyebabkan cacat fungsi maupun cacat total.
Menurut Yassierli, kondisi tersebut menjadi tanda bahwa sistem perlindungan pekerja perlu diarahkan pada langkah pencegahan sejak awal.
“Pendekatan yang selama ini cenderung reaktif, yaitu hanya berfokus pada pemenuhan kompensasi, tidak akan berkelanjutan secara aktuarial. Investasi di hulu melalui program promotif dan preventif akan menghasilkan penghematan yang jauh lebih besar di hilir,” ujar Yassierli saat menjadi pemateri dalam kegiatan bertema Menguatkan Peran BPJS Ketenagakerjaan dalam Mengurangi Kecelakaan Kerja di Industri di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Menaker juga menyoroti masih adanya kasus Penyakit Akibat Kerja atau PAK di Indonesia.
Sepanjang 2025, tercatat 158 kasus PAK meski jumlah tersebut diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya.
Menurutnya, sistem pelaporan yang belum optimal membuat banyak kasus belum terdata secara menyeluruh.
Kondisi itu sejalan dengan laporan WHO dan ILO yang menyebut sebagian besar kematian pekerja dunia berkaitan dengan penyakit akibat lingkungan kerja.







