RADARPANGANDARAN.COM – Menu terakhir sebelum eksekusi mati selalu menarik perhatian publik karena menggambarkan sisi manusiawi seorang narapidana. Tradisi memberikan makanan terakhir atau last meal berlangsung di banyak negara, termasuk Indonesia. Melalui pilihan makanan yang sederhana atau simbolis, setiap terpidana mati mengekspresikan sisi personal mereka sebelum menghadapi akhir hayatnya.
Tradisi Menu Terakhir Sebelum Eksekusi Mati
Masyarakat menganggap menu terakhir sebelum eksekusi mati sebagai simbol kemanusiaan. Tradisi ini memberi kesempatan terakhir bagi narapidana untuk menikmati sedikit kebebasan, walau hanya lewat hidangan terakhir. Di Indonesia, petugas penjara memberikan hak itu sesuai kemampuan dapur lapas. Narapidana boleh memilih makanan selama permintaannya masih memungkinkan untuk disiapkan.
Setiap makanan terakhir menunjukkan karakter, keyakinan, dan suasana batin terpidana menjelang kematian. Narapidana mengekspresikan perasaan mereka melalui secangkir kopi sederhana, makanan khas daerah, atau makanan cepat saji. Semua menu tersebut menjadi simbol perpisahan terakhir dengan dunia.
D.N. Aidit: Kopi dan Rokok Sebagai Simbol Keteguhan
D.N. Aidit menjalani eksekusi pada 22 November 1965. Ia memilih kopi dan rokok sebagai permintaan terakhir. Pilihan itu menunjukkan ketenangan dan keteguhannya menghadapi ajal. Aidit menikmati rokok terakhirnya dalam diam sebelum regu tembak menunaikan tugasnya. Banyak orang memaknai pilihan itu sebagai bentuk penerimaan terhadap nasib, bukan sekadar permintaan sederhana.
Amrozi: Roti Canai dan Kurma Sebagai Penutup Hidup
Amrozi, pelaku Bom Bali 2002, meminta roti canai dan kurma sebagai makanan terakhirnya. Ia menjalani eksekusi pada 9 November 2008 dengan tenang. Pilihan tersebut mencerminkan keyakinannya sebagai umat Islam yang ingin menutup hidup dengan makanan suci. Roti canai dan kurma melambangkan keikhlasan serta refleksi spiritual menjelang kematian.
Freddy Budiman: Menjalani Akhir Hidup dengan Kesederhanaan
Freddy Budiman, terpidana mati kasus narkoba, tidak meninggalkan catatan pasti tentang makanan terakhirnya. Petugas lapas biasanya menyajikan makanan standar bagi narapidana seperti Freddy. Meski menunya sederhana, momen itu tetap memiliki makna mendalam. Freddy menjalani hari terakhirnya dengan tenang, menunjukkan penerimaan terhadap konsekuensi perbuatannya.
Andrew Chan dan Myuran Sukumaran: Ayam KFC Sebagai Simbol Kebersamaan
Dua warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, memilih ayam KFC sebagai makanan terakhir sebelum eksekusi pada 29 April 2015 di Nusakambangan. Keduanya menikmati ayam goreng tersebut bersama rekan narapidana lainnya. Pilihan itu menggambarkan kebersamaan dan solidaritas di detik terakhir kehidupan. Mereka membuktikan bahwa bahkan dalam situasi paling kelam, manusia tetap bisa berbagi kemanusiaan.
Imam Samudra: Menu Khas Indonesia Sebagai Salam Perpisahan
Imam Samudra, pelaku Bom Bali lainnya, memilih makanan khas Indonesia untuk santapan terakhirnya. Ia meminta emping, rendang, sambal kulit melinjo, dan buah kecapi. Pilihan itu menunjukkan kecintaannya terhadap budaya lokal dan kesederhanaan dalam menghadapi kematian. Hidangan tersebut melambangkan rasa syukur dan ketenangan menjelang ajal.
Kasus Lain: Menu Terakhir yang Tidak Terdokumentasi
Beberapa terpidana mati lain seperti Sekarmadji dan Astin Sumiasih tidak meninggalkan catatan mengenai makanan terakhir mereka. Sebagian narapidana memilih tidak meminta menu khusus. Mereka menjalani hari terakhir dengan makanan penjara seadanya. Fakta itu menunjukkan bahwa banyak terpidana lebih mempersiapkan diri secara spiritual daripada memikirkan makanan.
Makna Filosofis di Balik Makanan Terakhir
Masyarakat memaknai makanan terakhir sebagai simbol perpisahan antara tubuh dan jiwa. Tradisi ini menegaskan nilai kemanusiaan dalam sistem hukum, bahkan terhadap orang yang telah divonis mati. Pihak berwenang menghormati hak narapidana untuk memilih makanan terakhirnya.











