RADARPANGANDARAN.COM – Ratusan santri di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Muchtar Singarani, Desa Cikadongdong, Kecamatan Singaparna, mengalami krisis air bersih yang telah berlangsung lebih dari satu pekan.
Dilansir dari laman radartasik.id, kondisi tersebut dipicu penghentian sementara aliran air Sungai Cikunten akibat proyek normalisasi yang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy.
Penghentian aliran sungai itu membuat sumber air utama pesantren terganggu secara langsung.
Air yang biasanya dipakai untuk mandi, mencuci, berwudhu, kebutuhan sanitasi, hingga kolam ikan kini sangat terbatas.
Para santri pun harus mengantre hingga malam hari hanya untuk mendapatkan air untuk kebutuhan dasar mereka.
Saat ini, pesantren hanya mengandalkan sumur serapan yang debitnya terus menurun serta suplai terbatas dari saluran air melalui DKM setempat.
Merasa aktivitas harian terganggu, pengurus pesantren kemudian menyampaikan keluhan secara terbuka melalui video di akun TikTok Media Santri Tasikmalaya.
Pengurus Pondok Pesantren Al-Muchtar Singarani, Ustadz Ajeb Singarani, mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk keberatan atas dampak proyek normalisasi.
“Kami menyampaikan keberatan sekaligus somasi terbuka kepada BBWS terkait dampak proyek yang menyebabkan terhentinya aliran air menuju Pesantren Al-Muchtar Singarani,” ungkap Ajeb kepada Radar Tasikmalaya, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, krisis air ini sudah terjadi cukup lama dan mulai mengganggu berbagai aktivitas penting santri di pesantren.







