RADARPANGANDARAN.COM – Beralih dari LPG ke CNG mulai dipersiapkan serius, dan kompor tidak perlu diganti saat transisi berjalan.
Kabar ini langsung menarik perhatian rumah tangga yang selama ini bergantung pada LPG bersubsidi.
Pemerintah menegaskan perubahan energi dapur tidak akan merepotkan masyarakat.
Kompor lama tetap bisa dipakai tanpa bongkar pasang rumit.
Frasa kompor tidak perlu diganti menjadi penegasan penting dalam rencana konversi energi ini.
“Kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tadinya pakai LPG, sekarang pakai CNG,” ungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman di acara “CNG & LNG untuk Rakyat” yang digelar di Jakarta.
Pernyataan itu memberi sinyal kuat bahwa adaptasi penggunaan CNG dibuat semudah mungkin.
Masyarakat tidak perlu membeli perangkat dapur baru.
Biaya tambahan juga bisa ditekan sejak awal.
Beralih dari LPG ke CNG yang makin realistis
Beralih dari LPG ke CNG bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari roadmap energi nasional.
Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor.
Langkah itu juga mendorong pemanfaatan sumber energi lokal.
Gas alam domestik menjadi modal utama dalam rencana besar ini.
Cadangan gas Indonesia dinilai cukup kuat menopang kebutuhan rumah tangga.
Selain melimpah, pasokan dalam negeri memberi ruang efisiensi jangka panjang.
Harga energi bisa lebih stabil jika distribusi berjalan rapi.
Ketahanan energi nasional pun ikut menguat.
“Roadmap CNG sudah ada, tetapi belum diumumkan oleh Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia). Intinya, ke depan, kami akan mereduksi LPG. Kita gantikan dengan CNG,” kata Laode.







