RADARPANGANDARAN.COM – Upaya penanganan ceceran 8.109 ton batu bara akibat insiden kapal tongkang di kawasan Pantai Sukaresik dinilai harus dilakukan secepat mungkin guna menghindari dampak lingkungan yang lebih luas.
Dilansir dari laman radartasik.id, perhatian publik tidak hanya tertuju pada potensi kerusakan ekosistem laut, tetapi juga ancaman pencemaran yang dapat memengaruhi kesehatan serta keselamatan masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pangandaran Usef Efendi menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk mengantisipasi dampak yang mungkin muncul akibat ceceran batu bara tersebut.
“Pihak provinsi sudah bergerak cepat, melakukan uji lab kandungan air itu sendiri, pusat juga akan segera turun,” katanya Senin (22/6/2026).
Menurut Usef, komunikasi juga akan dilakukan dengan pihak RN terkait dugaan dampak yang dirasakan nelayan selama proses evakuasi kapal tongkang berlangsung.
“Jadi yang jaring-jaringnya terkena dampak langsung, saat proses evakuasi,” ujarnya.
Selain nelayan, para pembudidaya ikan tambak juga berpotensi terdampak apabila kualitas perairan mengalami penurunan akibat pencemaran.
Uji Air dan Langkah Pencegahan Disiapkan
Usef menjelaskan pihaknya berencana melakukan pengujian kualitas air di area tambak guna membandingkan hasil yang nantinya diperoleh dari pemeriksaan yang dilakukan pemerintah provinsi.
“Rencana juga kita akan menguji air di teman-teman tambak, itu dilakukan untuk memberikan kesebandingan dan keseimbangan, apa hasil dari provinsi nanti,” ujarnya.







