RADARPANGANDARAN.COM – Pangandaran selalu identik dengan garis pantainya yang indah, pasir putih, dan ombak yang menggoda wisatawan. Namun di balik keindahan itu, abrasi bisa menjadi ancaman yang semakin nyata. Setiap tahun, garis pantai sedikit demi sedikit mundur, meninggalkan jejak pohon tumbang, fasilitas yang rusak, serta ruang hidup masyarakat pesisir yang semakin sempit.
Ancaman abrasi tidak hanya menghancurkan bentang alam, tetapi juga menggerus perekonomian lokal. Ketika pantai terkikis, nelayan kehilangan tempat tambat perahu, wisatawan kehilangan ruang untuk menikmati pantai, dan warga kehilangan lahan yang seharusnya bisa mereka manfaatkan.
Bagaimana abrasi terjadi di Pangandaran?
Gelombang besar dari Samudera Hindia menghantam pesisir Pangandaran dengan kekuatan yang konsisten. Pasang laut yang makin tinggi mempercepat proses pengikisan pasir. Vegetasi penyangga yang semakin berkurang membuat pantai tak lagi memiliki benteng alami. Semua faktor ini saling berkaitan, sehingga abrasi tidak bisa dicegah hanya dengan satu cara.
Abrasi di Pangandaran sudah terlihat nyata di beberapa titik. Bibir pantai yang semakin dekat ke jalan, tambatan perahu yang semakin sempit, serta lahan pertanian yang hilang karena tergerus laut menjadi bukti ancaman ini. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka dalam beberapa tahun ke depan, garis pantai bisa berubah secara drastis.
Dampak langsung bagi kehidupan masyarakat
Masyarakat pesisir merasakan dampak abrasi lebih dulu. Nelayan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengamankan perahu. Wisatawan merasa kurang nyaman ketika akses pantai berkurang atau tidak lagi aman. Warga kehilangan lahan dan harus menanggung risiko rumah yang semakin dekat dengan ombak.












