Oleh karena itu, penting untuk minum air sebelum, selama, dan setelah lari. Minum segelas air 30 menit sebelum mulai lari agar tubuh terhidrasi dengan baik.
Jika berlari lebih dari 30 menit, bawalah botol minum kecil atau manfaatkan water station di jalur lari. Pilih minuman isotonik saat lari jarak jauh karena kandungan elektrolitnya mampu menggantikan cairan tubuh yang hilang. Dengan hidrasi yang cukup, stamina lebih stabil hingga garis akhir.
4. Pola Lari Konsisten
Cara menjaga stamina saat lari juga ditentukan oleh pola latihan yang konsisten. Tubuh membutuhkan adaptasi bertahap agar mampu berlari lebih jauh tanpa cepat lelah.
Jangan langsung memaksa diri dengan jarak jauh, melainkan tingkatkan perlahan sesuai kemampuan. Misalnya, mulai dengan kombinasi jalan cepat dan jogging ringan, lalu tambah intensitas setelah tubuh terbiasa.
Gunakan metode interval, yaitu bergantian antara lari cepat dan lambat, untuk melatih daya tahan sekaligus kecepatan. Dengan pola latihan yang konsisten, stamina meningkat secara alami dan risiko cedera berkurang.
5. Istirahat Cukup
Tidur berkualitas memberi waktu bagi tubuh untuk memperbaiki jaringan otot, mengisi kembali energi, dan memulihkan sistem saraf. Pelari yang kurang tidur lebih mudah lelah dan rentan cedera.
Usahakan tidur 7–8 jam per malam dan beri jeda istirahat setelah latihan intensif. Gunakan hari tanpa lari sebagai kesempatan melakukan cross-training ringan seperti berenang atau bersepeda.
Aktivitas ini tetap melatih stamina sekaligus memberi otot kesempatan untuk pulih. Dengan istirahat cukup, performa lari meningkat secara signifikan.







