Akibatnya, ball joint menerima shock load lebih sering.
Kondisi ini meningkatkan micro-movement pada sambungan mekanis.
Jika pabrikan memakai desain lama, keausan muncul lebih cepat.
Karena itu, ZF Friedrichshafen mengembangkan ball joint EV berdiameter lebih besar.
Ukuran tersebut membantu menyebarkan beban secara lebih merata.
Toyota melalui platform TNGA juga menggunakan ball joint berdurabilitas tinggi.
Langkah ini mengantisipasi peningkatan sprung mass kendaraan.
Tesla bahkan menyarankan interval inspeksi suspensi lebih pendek.
Manual servis Tesla menekankan pemeriksaan play ball joint secara berkala.
Dengan langkah ini, teknisi dapat mencegah kegagalan lebih dini.
Dengan demikian, ball joint EV bukan lebih lemah secara desain.
Namun, ball joint EV bekerja di bawah beban yang jauh lebih berat.
Dampak Bobot EV terhadap Bushing Suspensi
Bushing EV juga menerima dampak langsung dari bobot kendaraan listrik.
Continental AG menjelaskan elastomer konvensional lebih cepat mengalami creep pada EV.
Bobot baterai menekan bushing secara konstan sepanjang waktu.
Berbeda dengan ICE, beban ini tidak mengalami fluktuasi signifikan.
Akibatnya, bushing bekerja tanpa fase relaksasi material.
Bosch menyebut kondisi ini meningkatkan stress internal elastomer.
Selain itu, torsi instan EV menambah deformasi mendadak pada bushing.
Jika produsen memakai desain lama, retakan muncul lebih cepat.
Karena itu, pabrikan kini menggunakan compound bushing yang lebih keras.
ZF menyebut reinforced bushing sebagai standar pada EV modern.













