RADARPANGANDARAN.COM –Â Dampak bobot EV pada ball joint dan bushing sangat signifikan karena kendaraan listrik membawa massa lebih besar.
Sebagian besar bobot tambahan berasal dari baterai berkapasitas besar.
Selain itu, EV mempertahankan distribusi bobot yang konstan sepanjang penggunaan.
Kondisi ini memaksa komponen suspensi bekerja lebih keras setiap hari.
Akibatnya, ball joint dan bushing mengalami keausan lebih cepat.
SAE International menjelaskan bahwa peningkatan massa kendaraan menaikkan beban statis suspensi.
Beban statis ini terus menekan ball joint dan material elastomer.
Selain beban statis, sistem suspensi juga menerima beban dinamis lebih tinggi.
Torsi instan EV memberi tekanan mendadak pada kaki-kaki kendaraan.
Karena itu, produsen tidak selalu dapat memakai komponen setara kendaraan ICE.
Bobot EV bisa meningkat 15 hingga 30 persen.
Perbedaan ini langsung memengaruhi durabilitas sistem suspensi.
Dalam konteks ini, ball joint dan bushing menjadi komponen paling terdampak.
Oleh sebab itu, pemilik EV perlu melakukan inspeksi rutin lebih disiplin.
Dampak Bobot EV terhadap Ball Joint
Ball joint EV menerima tekanan lebih besar karena massa kendaraan meningkat signifikan.
SAE Technical Paper menjelaskan hubungan langsung antara massa kendaraan dan kelelahan suspensi.
Semakin berat kendaraan, ball joint mengalami siklus kelelahan lebih tinggi.
Selain itu, torsi instan EV menambah beban kejut pada sambungan.
Bosch menyebut motor listrik menghasilkan torsi tanpa jeda seperti mesin bensin.













