RADARPANGANDARAN.COM – Buat kebanyakan pemilik mobil, istilah engine flush mungkin terdengar seperti jurus pamungkas untuk membuat mesin kinclong dari dalam.
Katanya, cairan ini bisa mengangkat kerak dan kotoran yang menumpuk di ruang mesin, lalu membuat performa mobil terasa seperti baru lagi.
Tapi, tunggu dulu! Tidak semua mesin cocok dikasih cairan pembersih mesin ini, lho.
Kalau dipakai asal, hasilnya bisa berbalik arah, bukan bikin mesin makin sehat tapi justru mempercepat kerusakan.
Apa Itu Engine Flush Sebenarnya?
Secara sederhana, engine flush adalah cairan kimia khusus yang dituangkan ke ruang oli sebelum oli lama dibuang.
Setelah itu, mesin dihidupkan beberapa menit supaya cairan ini melarutkan sisa kotoran dan lumpur oli (sludge) yang menempel di sela-sela komponen mesin.
Begitu selesai, oli kotor dikeluarkan, lalu diganti dengan oli baru.
Teorinya memang terdengar meyakinkan, membuat mesin kinclong dan bersih, sirkulasi oli lancar dan performa pun meningkat. Tapi dalam praktiknya, tidak selalu sesederhana itu.
Kapan Engine Flush Wajib Dilakukan?
Menurut penjelasan dari Valvoline dan AMSOIL, engine flush hanya perlu dilakukan kalau kondisi mesin yang benar-benar kotor.
Misalnya, kamu baru beli mobil bekas dan tidak tahu riwayat penggantian olinya.
Atau, kalau mobil jarang servis, sering dipakai jarak pendek atau dibiarkan lama tanpa ganti oli.
Biasanya, tanda-tandanya cukup jelas: mesin terasa berat, oli cepat menghitam atau muncul suara kasar dari ruang mesin.
Dalam kondisi seperti itu, cairan pembersih mesin memang bisa bantu melunturkan kerak yang menumpuk.













