RADARPANGANDARAN.COM –Â EV battery swap menawarkan solusi cepat dibanding charging konvensional karena sistem ini mengganti baterai dalam hitungan menit.
Saat ini, produsen mulai menerapkan teknologi ini pada model mobil listrik tertentu.
Produsen mengklaim sistem ini meningkatkan efisiensi untuk kebutuhan mobilitas harian.
Namun demikian, penyedia belum menghadirkan sistem ini di semua wilayah.
Oleh karena itu, pengguna perlu memahami perbedaan mendasar sebelum memilih sistem.
Penyedia layanan sering mengaitkan battery swap dengan ekosistem tertutup.
Sebaliknya, charging konvensional memberi fleksibilitas lebih luas bagi pengguna.
Selain itu, transisi ke sistem baru menuntut pembangunan infrastruktur khusus.
Pada praktiknya, kebutuhan pengguna sangat menentukan pilihan sistem pengisian energi.
Sebagai perbandingan, pemilik armada memiliki pertimbangan berbeda dari pengguna pribadi.
Saat ini, beberapa negara telah menguji sistem battery swap secara serius.
Misalnya, China menerapkan battery swap dalam skala nasional.
NIO menyatakan sistemnya mampu menyelesaikan proses swap dalam tiga hingga lima menit.
Informasi tersebut berasal langsung dari white paper resmi NIO.
Kecepatan ini jelas melampaui kemampuan fast charging konvensional.
Namun begitu, pengguna tetap perlu mencermati sejumlah risiko sejak awal.
Keuntungan EV Battery Swap Dibanding Charging Konvensional
Secara umum, EV battery swap unggul dalam efisiensi waktu pengisian energi.
Dengan sistem ini, pengguna tidak perlu menunggu baterai terisi penuh.







