Menurut NIO, stasiun swap menyelesaikan proses penggantian baterai hanya dalam beberapa menit.
Karena itu, sistem ini sangat mendukung mobilitas tinggi.
Selain itu, perusahaan mengelola baterai secara langsung dan terpusat.
Industri mengenal model ini sebagai Battery as a Service.
NIO menjelaskan bahwa sistem pusat terus memantau kondisi baterai.
Pemantauan mencakup suhu, siklus pengisian, dan kesehatan baterai.
Dengan pendekatan ini, perusahaan mengendalikan degradasi baterai lebih efektif.
Selain itu, operator mengisi baterai dalam kondisi optimal.
Sebagai pembanding, fast charging publik sering mempercepat degradasi baterai.
Karena itu, industri menjadikan pendekatan ini sebagai benchmark global.
Selain NIO, Hyundai juga menguji battery swap untuk armada komersial.
Hyundai menilai sistem ini ideal untuk logistik dan layanan taksi.
Keunggulan utama terletak pada efisiensi operasional harian.
Oleh sebab itu, battery swap cocok untuk penggunaan terjadwal.
Risiko dan Keterbatasan Sistem Battery Swap EV
Meski unggul, sistem battery swap tetap menghadapi keterbatasan signifikan.
Risiko terbesar muncul pada isu standarisasi baterai.
Tanpa standar global, industri menghadapi masalah kompatibilitas serius.
Akibatnya, setiap merek cenderung membangun ekosistem tertutup.
Kondisi ini membatasi fleksibilitas lintas merek bagi pengguna.
Selain itu, pembangunan infrastruktur battery swap membutuhkan biaya besar.
Pengembang harus menyiapkan stasiun swap dengan investasi tinggi.
Karena alasan tersebut, penyedia hanya membangun stasiun di kota tertentu.













