RADARPANGANDARAN.COM – Di era modern, ruang angkasa bukan lagi sekadar wilayah eksplorasi ilmiah atau tempat meluncurkan roket demi prestise nasional. Kini, ruang angkasa telah menjadi arena baru persaingan militer dan pertahanan global. Satelit yang dulunya identik dengan komunikasi atau siaran televisi kini menjelma sebagai salah satu aset paling strategis bagi sebuah negara.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok gencar membangun sistem pertahanan berbasis satelit yang mencakup komunikasi militer, pemantauan intelijen, navigasi, hingga pertahanan dari serangan siber dan luar angkasa. Lalu, bagaimana posisi Indonesia dalam kompetisi Sistem Pertahanan Luar Angkasa ini?
Satelit militer berfungsi layaknya mata dan otak sebuah negara di medan tempur modern. Melalui satelit, militer bisa mengawasi wilayah musuh dengan citra resolusi tinggi, mengatur komunikasi pasukan di berbagai lokasi terpencil tanpa bergantung pada jaringan darat, mendeteksi peluncuran rudal atau pergerakan kapal selam, serta mengendalikan drone dan persenjataan canggih dari jarak jauh.
Tanpa satelit, banyak operasi militer modern akan lumpuh. Itulah sebabnya satelit kini menjadi aset yang dilindungi ketat, bahkan dianggap sama berharganya dengan kapal perang atau jet tempur.
Pertahanan Luar Angkasa Dari Cyber Attack hingga Anti-Satellite Weapon
Ancaman terhadap satelit bukan hanya dari luar angkasa, tetapi juga dari dunia maya. Serangan siber dapat meretas sistem kendali satelit, melumpuhkan komunikasi, bahkan mengubah arah orbitnya.











