Hal ini membuat Nissan Gravite 2026 terlihat unggul.
Platform yang dipakai bukan murni buatan Nissan.
Mobil ini menggunakan basis dari Renault Tribber.
Renault dan Nissan memang berada dalam satu aliansi global.
Kolaborasi ini membuat mereka bisa berbagi platform.
Strategi sharing platform menekan biaya produksi.
Efisiensi itu yang memungkinkan harga 100 jutaan tercapai.
Langkah ini mirip strategi Sigra dan Calya.
Namun Nissan tetap memberi sentuhan desain berbeda.
Mereka ingin tampil lebih premium di kelas mobil LCGC.
Pasar LMPV Indonesia memang sangat kompetitif.
Konsumen biasanya sensitif terhadap harga dan konsumsi BBM.
Nissan Gravite 2026 mencoba menjawab dua kebutuhan itu.
Mobil ini menawarkan kabin lega dengan biaya terjangkau.
Jika strategi ini berhasil, peta persaingan bisa berubah.
Sigra dan Calya berpotensi kehilangan sebagian pasar.
Terutama pembeli yang menginginkan merek global.
Harga 100 jutaan dari Nissan tentu jadi daya tarik kuat.
Banyak keluarga muda mencari mobil pertama mereka.
Segmen ini sangat besar di Indonesia.
Nissan melihat peluang tersebut sejak awal.
Karena itu mereka mempersiapkan peluncuran global Januari 2026.
Penjualan resmi direncanakan mulai Maret 2026.
Momentum awal tahun sering jadi waktu tepat meluncurkan produk.
Konsumen biasanya sudah menyiapkan anggaran baru.
Nissan Gravite 2026 bisa langsung menarik perhatian.
Apalagi jika promosi dilakukan secara agresif.
GearWan bahkan mempertanyakan dampaknya pada pasar LCGC.
Ia menilai mobil ini bisa menggempur dominasi lama.







