RADARPANGANDARAN.COM – Mobil modern dengan start-stop engine memang irit, tapi fitur ini memberi beban besar pada aki mobil hybrid.
Setiap mesin mati dan menyala, aki bekerja lebih keras daripada mobil biasa, terutama saat macet.
Karena itu, mobil start-stop wajib memakai aki EFB atau aki AGM, bukan aki standar.
Jika salah aki, sistem bisa error dan umur baterai berkurang jauh lebih cepat.
Jenis Aki EFB dan AGM untuk Start-Stop Engine
Mobil dengan sistem start-stop tidak bisa memakai aki biasa.
Aki standar tidak dirancang untuk menghadapi siklus mati–hidup yang terjadi sangat sering.
Mengutip dari VARTA, “Satu-satunya baterai yang dapat menahan tantangan dari sistem start-stop otomatis adalah baterai EFB dan baterai AGM.”
Aki EFB cocok untuk mobil dengan fitur start-stop sederhana.
VARTA menambahkan, “Baterai EFB cocok untuk mobil dengan sistem start-stop otomatis yang sederhana.”
Untuk mobil yang lebih premium atau punya fitur recuperation, AGM lebih ideal.
Masih dari VARTA, “Baterai AGM sangat ideal untuk mobil start-stop yang memiliki sistem pemulihan energi pengereman.”
Yuasa juga menjelaskan bahwa teknologi AGM memiliki siklus yang jauh lebih tahan lama dibandingkan aki biasa.
Yuasa mencatat peningkatan kemampuan pengisian dinamis sebesar 170% pada aki EFB dibanding aki konvensional.
Artinya, produsen memang membuat aki ini untuk menghadapi kondisi stop-start intens di kota besar.
Beberapa merek bahkan menegaskan larangan memakai aki biasa.
Banner menegaskan, “Jangan pernah memasang baterai sel basah konvensional pada kendaraan start-stop yang menggunakan EFB atau AGM.”







