RADARPANGANDARAN.COM – Sistem OBD mobil berperan penting karena port diagnostik mobil menjadi jalur utama membaca kondisi kendaraan, namun risikonya sering diabaikan pengguna.
Port OBD digunakan setiap kali proses diagnosa dilakukan.
Namun, pemakaian berulang dapat memicu masalah mekanis.
Konektor bisa menjadi longgar seiring waktu.
Selain itu, terminal dapat mengalami keausan.
Standar SAE J1962 menjelaskan port memiliki umur mekanis terbatas.
Karena itu, penggunaan berlebihan meningkatkan risiko kerusakan.
Masalah ini sering muncul tanpa disadari pemilik mobil.
Transisi ke masalah berikutnya, alat scan juga berpengaruh besar.
Scanner tidak kompatibel bisa menyebabkan pembacaan keliru.
Kesalahan ini berdampak langsung pada proses perbaikan.
Akibatnya, diagnosis menjadi tidak akurat.
Biaya perbaikan bisa membengkak tanpa alasan jelas.
Oleh karena itu, pemahaman sistem OBD menjadi sangat penting.
Risiko Port OBD Longgar dan Konektor Aus
Pabrikan merancang port diagnostik mobil mengikuti standar global SAE J1962.
Standar ini mengatur desain fisik dan kekuatan konektor.
Namun, koneksi berulang tetap menimbulkan keausan.
Konektor yang sering dilepas pasang bisa kehilangan daya cengkeram.
Akibatnya, koneksi menjadi tidak stabil.
Toyota Technical Service Information memperingatkan risiko terminal DLC aus.
Masalah ini sering terjadi akibat alat scan yang berat.
Selain itu, getaran kendaraan memperparah kondisi konektor.
Honda dalam manual servisnya melarang scanner terpasang saat berkendara.
Langkah ini bertujuan mencegah tekanan berlebih pada port.







