Pengguna juga merasakan mesin menjadi lebih berat saat digunakan.
Pada kondisi tertentu, knalpot mengeluarkan bau bensin.
Masalah ini sering muncul tanpa indikator peringatan awal.
Honda menjelaskan gejala awal sering terabaikan.
Pengendara biasanya baru sadar saat BBM cepat habis.
Karena itu, pengecekan sensor sangat disarankan.
Terutama jika konsumsi BBM tiba-tiba meningkat.
Perubahan ini bukan sekadar faktor gaya berkendara.
Sensor suhu mesin sering menjadi penyebab tersembunyi.
Cara Mendeteksi Suhu Tidak Stabil dan Dampak Jangka Panjangnya
Honda menjelaskan sensor ECT bermasalah menyebabkan suhu mesin tidak stabil.
Gejalanya antara lain idle naik turun.
Mesin juga sulit dihidupkan saat panas.
Kipas radiator bisa menyala tidak sesuai kondisi suhu.
Indikator check engine terkadang ikut aktif.
Honda menyarankan membaca data suhu melalui alat diagnostik.
Teknisi harus membandingkan suhu mesin saat dingin dan panas.
Perbedaan tidak wajar menandakan sensor bermasalah.
Selain itu, teknisi dapat mengukur resistansi sensor.
Nilainya harus sesuai tabel suhu pabrikan.
Jika pengguna mengabaikannya, dampaknya akan menjadi semakin serius.
Kesalahan suhu menyebabkan rich mixture berkepanjangan.
Karbon akan menumpuk di ruang bakar.
Catalytic converter berisiko rusak lebih cepat.
Selain itu, umur busi menjadi lebih pendek.
Oxygen sensor juga bisa ikut rusak.
SAE International menyebut ECT sensor berperan dalam kontrol emisi.
Sensor rusak membuat mesin keluar dari standar emisi.
Dalam jangka panjang, performa mesin menurun.







