Dengan skema itu, pabrikan menanggung sebagian pajak, sehingga harga jual lebih ringan di pasar.
Data dari Honda Global Newsroom (2025), menjelaskan bahwa insentif ini berlaku sepanjang tahun 2025.
Belum ada mobil hybrid 48V dengan harga di bawah Rp240 juta hingga kini.
Suzuki Fronx SHVS masih jadi pilihan terdekat di segmen hybrid ringan.
Model lain seperti Suzuki XL7 Hybrid dibanderol Rp286–314 juta, sedangkan Ertiga Smart Hybrid dijual Rp274–298 juta.
Beberapa wilayah seperti Jawa Tengah pernah menawarkan XL7 dengan harga “240 jutaan.”
Tapi, harga tersebut berlaku lokal dan bukan harga reguler nasional.
Perbandingan dengan Mobil ICE Konvensional
Sebagai pembanding, Toyota Agya ICE dibanderol Rp173–200 juta OTR Jakarta.
Daihatsu Ayla ICE berkisar antara Rp140–196 juta.
Mobil bensin jelas lebih terjangkau dibandingkan hybrid.
Namun, hybrid unggul dalam efisiensi dan rasa berkendara.
OTO.com (2025) mencatat Fronx bisa menghemat 1 km per liter dibanding mobil bensin biasa.
Selama lima tahun pemakaian, penghematan bahan bakar Fronx mencapai sekitar Rp2,4 juta.
Angkanya kecil, tapi cukup berarti bagi pengguna yang ingin kendaraan lebih efisien.
Fronx juga menawarkan pengalaman berkendara yang lebih halus dan nyaman.
Hybrid murah masih di awal perjalanan.
Kalau kamu mencari mobil hybrid murah, Suzuki Fronx SHVS bisa jadi pilihan paling logis.
Teknologinya sederhana tapi fungsional, dan hasilnya terasa nyata di jalan.
Namun, jika bujet kamu mentok di bawah Rp240 juta, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla tetap paling realistis.










